1. (via avinaninasia)

    4 months ago  /  11,314 notes  /  Source: positive-outlooks

  2. photo

    photo

    4 months ago  /  133,022 notes  /  Source: bluedogeyes

  3. isnidalimunthe:

    luqmansyauqi:

    Video pleno terakhir keluarga Badan Kelengkapan MWA UI UM 2011.

    kyaaaaa, ga nyangka kita udah ngelakuin ini-ini dalam setahun ini, hahaha, :”)

    yup, dan penempatan saya di tempat ini adalah salah satu dari rencana terbaik Allah :)

    (via ahalffullglassofwater)

    4 months ago  /  7 notes  /  Source: luqmansyauqi

  4. Allah itu selalu mengganjar setiap keburukan dengan yang setimpal, tapi mengganjar kebaikan dengan jauh berlipat-lipat dari apa yang telah manusia dilakukan. Tapi, manusia itu seringkali mengganjar keburukan dengan hal yang berlipat-lipat daripada keburukan yang menimpanya, dan membalas kebaikan orang lainnya dengan yang setimpal.
    – pengalaman pribadi, bisa saja berbeda pada orang lainnya

    4 months ago  /  0 notes

  5. Dodolitdodolitdodolibret (karya Seno Gumira A)

    ini adalah salah satu cerpen kompas yang saya suka, dan kebetulan saya ngerti (hehe)

    Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

    “Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

    Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

    ”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

     Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.

    Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

    Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

    ”Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

    Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

    Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

    Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

    Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

    ”Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

    Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

    ”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

    Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

    Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.

    Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

    ”Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

    ***

    Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

    ”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”

    Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.

    Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

    ”Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

    Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!

    ”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.”

    Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

    Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

    Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

    ”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.

    Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

    ”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

    Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

    Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.

    ”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

    Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

    Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

    ”Guru! Lihat!”

    Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

    Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

    Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

    ”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”

    4 months ago  /  0 notes

  6. tak peduli gagal atau berhasil, percaya aja, bahwa Allah selalu menempatkan kita pada yang terbaik

    4 months ago  /  5 notes

  7. Tamu Malam Hari

    Tok tok! Ketukan pintu membuatku kaget dan terjaga dalam sekejap.
    Aku bertanya pada sumber suara
     “Siapa?”
    Tidak ada yang menjawab
    Tok tok!
    Aku bertanya lebih keras “SIAPA”?
    Tapi yang mengetuk tak juga menjawab
    Aku penasaran! Sambil mendengus
    “Siapa sih, iseng amat!”
    kubuka pintu hingga terpaksa deritnya membawa sembilu di malam dingin itu.
    Kulihat seseorang tersenyum, sangat hangat.
    Ia, adalah lelaki… tampan
    “Halo, aku setan!”
    Deg! Reflek aku tutup pintu. Mustahil! Ini mimpi bukan?
    Tok tok!
    Aku buka pintu lagi. Ketus aku menegurnya yang lancang membangunkan tidurku
    “Mau kamu apa?”
    Dia menjawab “menganggu kamu”
    Aku tutup lagi pintu kamarku, dan pintu itu mengetuk lagi
    Tok, tok!
    “kamu mau mengganggu dengan cara apa sih? Maaf ya aku sedang sibuk!”
    Lelaki itu hanya menyeringai, tersenyum mengejek
    “Kamu memangnya tidak sadar?”
    “bukankah ini waktu yang tepat untuk bermunajat pada Tuhanmu?”
    Aku terhenyak, menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul tiga malam, dan aku masih asyik dengan pekerjaan-pekerjaanku.
    “nanti saja lah…. Setengah jam lagi, menjelang shalat subuh.”
    “apakah kamu yakin? Aku sedang menganggumu loh”
    “eh, iyaaaa. Nanti, kok kamu bawel amat sih!”
    “baiklah, aku pergi saja kalau begitu”
    “eh, kenapa? Karena sukses menggangguku ya?”
    Aku menatapnya heran.
    “Tidak, tidak apa, aku telah gagal!”
    “gagal apa? Bukankah kau telah berhasil menggangguku? Kenapa jadi kau yang bersedih? Harusnya prestasimu malam ini bisa kau banggakan dengan iblis, atasanmu itu.”
    Dia hanya menghela nafas.
    “aku menyerah, ternyata manusia itu membingungkan”
    “Apaaa? Bukankah kau yang membingungkan? Harusnya kau senang kan, jika aku menunda munajatku?”
    “setelah memutar otak, aku menyamar dan mengaku menjadi setan, lalu memperingatkanmu terhadap bisikan halus lawanku itu….”
    “lalu aku memperingatkanmu, dengan sebuah pertanyaan, kau juga tahu mana yang benar dan mana yang salah”
    Kini, ia menunduk lalu terisak.
    “kau, kalian, manusia, benar-benar tidak bisa dimengerti, kalau tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang bisikan setan dan mana yang gema nurani, kenapa kalian masih saja memilih jalan mereka…?”
    “kalau begini caranya, jangan lagi salahkan kami, yang ditugaskan untuk menuntunmu melawan bisikan halus itu, karena kalian sudah memilih, kami tak bisa berbuat apa-apa…”
    “eh, tunggu, kau itu siapa sih?”
    “perkenalkan, namaku yang sebenarnya adalah nurani, aku ditugaskan Tuhan untuk berteriak pada manusia agar mereka tetap mengikuti jalanNya…”
    “aku berteriak, tapi mereka seringkali pura-pura tak mendengar”.

    4 months ago  /  6 notes

  8. JEM- It’s amazing

    Do it, now
    You know who you are
    You feel it in your heart
    And you’re burning with ambition

    But first, wait
    Won’t get it on a plate
    You gonna have to work for it
    Harder and harder

    And I know
    Cause I’ve been there before
    Knocking on the doors
    With rejection (rejection)
    And you’ll see
    Cause if it’s meant to be
    Nothing can compare
    To deserving your dreams

    It’s amazing
    It’s amazing
    All that you can do
    It’s amazing
    Makes my heart sing
    Now it’s up to you

    Patience, now
    Frustration is in the air
    And people who don’t care
    Well it’s gonna get you down

    And you’ll fall
    Cause you will hit a wall
    But get back on your feet
    And you’ll be stronger
    And smarter

    And I know
    Cause I’ve been there before
    Knocking down the doors
    Won’t take no for an answer

    And you’ll see
    Cause if it’s meant to be
    Nothing can compare
    To deserving your dreams

    4 months ago  /  0 notes

  9. czafranirani:

aishah-jessicahjoie:

Let’s be patient as Allah is most patient with us.SubhanAllah.. In sha ALLAH ♥

Sabar itu indah :)

    czafranirani:

    aishah-jessicahjoie:

    Let’s be patient as Allah is most patient with us.

    SubhanAllah.. In sha ALLAH ♥

    Sabar itu indah :)

    4 months ago  /  199 notes  /  Source: hijabi-muslimaah

  10. yasirmukhtar:

Leadership Talks : Kepemimpinan yang Mengubah Indonesia
Dr. Siti Fadilah Supari | Ir. Joko Widodo | Budi Syaiful Haris | Prof. Firmansyah, Ph. D | Fahira Fahmi Idris | Fajrin Rashid | Anies Baswedan, Ph.D
Senin, 19 Desember 2011
12.30 - 17.30
Auditorium FE UI
Free and open for all

    yasirmukhtar:

    Leadership Talks : Kepemimpinan yang Mengubah Indonesia

    Dr. Siti Fadilah Supari | Ir. Joko Widodo | Budi Syaiful Haris | Prof. Firmansyah, Ph. D | Fahira Fahmi Idris | Fajrin Rashid | Anies Baswedan, Ph.D

    Senin, 19 Desember 2011

    12.30 - 17.30

    Auditorium FE UI

    Free and open for all

    5 months ago  /  1 note  /  Source: yasirmukhtar

  11. Selalu ada yang tidak menyukaimu ketika banyak yang menyukaimu. Sebagai orang yang unik, dibenci itu hal biasa. Mungkin ada orang yang merasa dirinya gagal ketika melihatmu berhasil. Sesungguhnya orang seperti itu perlu kau rangkul.
    – (via kuntawiaji)

    (via kuntawiaji)

    5 months ago  /  191 notes  /  Source: zarryhendrik